Hamka; Sintesis Budaya dan Agama

Prof. Dr. Haji Abdul Malik bin Dr. Syekh Haji Abdul Karim Amrullah, atau dengan nama penanya Hamka, adalah seorang ulama, sastrawan, dan politikus yang berperan besar dalam perkembangan masyarakat Indonesia. Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Tanah Sirah, kini masuk wilayah Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pada masa kecilnya, hamka mengikuti sekolah dasar hingga kelas dua. Dia melanjutkan pendidikannya dengan mempelajari agama serta bahasa Arab. Pada usia 16, Hamka mengikuti pendidikan tentang ilmu gerakan Islam modern dari beberapa tokoh terkenal seperti HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhrudin.

 

Karir politik Hamka dimulai saat dia mengikuti partai Syarekat Islam di Indonesia pada 1925. Pada 1945, Hamka menentang kedatangan Belanda kembali ke indonesia melalui pidatonya dan mengikuti gerakan gerilya di medan. Hamka menjadi ketua barisan pertahanan nasional pada tahun 1947. Hamka mendukung partai Masyumi pada pemilu 1955 dengan menjadi pemidato utamanya. Hasilnya, Masyumi menjadi partai kedua terkuat di DPR. Pada masa demokrasi terpimpin, Partai Masyumi dibubarkan oleh pemerintah pada 1960. Setelah itu hamka menjadi tahanan politik diantara 1964 hingga 1966. Walaupun sukarno telah melakukan hal hal tersebut, Hamka tidak mendendam kepada soekarno, setelah itu, Hamka menjadi imam salat Soekarno saat dia wafat walaupun banyak yang menuduh Soekarno sebagai komunis. Saat pemerintahan orde baru, Majelis Ulama Indonesia dibentuk, dan Hamka menjadi ketua umum yang pertama dari 1975 hingga 1981.

 

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup.

Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.”

Hamka

 

Selain berpolitik, Hamka juga aktif dalam dunia sastra, menulis beberapa cerita seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Di Bawah Lindungan Ka’bah pada tahun 1938. Dua karyanya yang paling terkenal ini memfokuskan kepada tema pertentangan antara budaya dan agama. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menceritakan sebuah romance antara Zainuddin dan Hayati. Zainuddin tidak diterima oleh keluarga Hayati karena dia bukan murni Minang. Hayati kemudian menikahi Aziz, yang merupakan keturunan minang. Namun, pernikahan Aziz dan Hayati tidak berjalan dengan baik dan jadi ujung tombak bagi Hamka untuk mengkritisi adat Minangkabau.

 

“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.”

Hamka

 

Pada akhirnya, kita tak dapat memungkiri pentingnya Hamka dalam sejarah dan budaya Indonesia. Hamka adalah salah satu tokoh yang berkarisma karena dia dapat berpidato untuk memobilisasi masyarakat. Hamka juga adalah orang yang rendah hati, kerendahan hatinya dapat dilihat saat dia tetap mendoakan Soekarno istirahat yang tenang walaupun hubungan yang memburuk. Hamka merupakan tokoh yang kritis dan progresif terhadap isu agama dan budaya, ini dapat dilihat dari karya tulisnya yang mempertanyakan peran budaya yang dapat merugikan seorang individu di beberapa isu.

References:  

http://www.academia.edu/11928306/HAMKA_Haji_Abdul_Malik_bin_Abdul_Karim_Amrullah

http://bio.or.id/biografi-buya-hamka/

https://news.detik.com/berita/d-3913565/pemilu-1955-pembuktian-rakyat-buta-huruf-di-depan-mata-dunia

Ditulis oleh Michael Jehan

Kajian dan Aksi Strategis

IMPI FTUI 2019

𝘙𝘌𝘗𝘖𝘚𝘈𝘓

Representatif • Progresif • Stabil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s